Beranda » Tak Berkategori » INDONESIA: Proses Menjadi Sebuah Negara

INDONESIA: Proses Menjadi Sebuah Negara

20160223_111521 20160223_111446

Asal usul nama Indonesia :

Pada tahun 1850 seorang jurnalis yang bernama Earl George Samuel Windsor ,dalam jurnalnya yang berjudul On The Leading Characteristics of The Papuan, Australian and Malay-Polynesian, mengusulkan dua istilah yang menjadi asal usul nama Indonesia, yang pertama bernama Melayunesia, dikarenakan masyarkat yang berada di daerah Indonesia saat itu berbahasa Melayu. Istilah yang kedua Indunesia, Indu berasal dari kata Indos yang berarti India dan Nesos. Indunesia diartikan sebagai kepulauan di daerah Hindia. Kemudian James Logan dalam jurnalnya yang berjudul Journal of Indian Archipelago and Eastern Asia mengemukakan bahwa istilah Indunesia lebih cocok dibanding Melayunesia untuk mewakili daerah tersebut. Namun, ia berpendapat untuk mengganti Indunesia menjadi Indonesia, pengucapanya lebih mudah.

Mengapa menggunakan nama Indonesia?

Tidak hanya nama Indonesia yang digunakan untuk menggambarkan Indonesia. Nusantara juga sering digunakan untuk menggambarkan Indonesia. Namun, apa alasan bangsa ini lebih memilih nama Indonesia dibandingkan dengan Nusantara untuk digunakan secara resmi?

  • Istilah Nusantara pertama kali dicetuskan pada masa penjajahan Majapahit dibawah pemerintahan Gajahmada (pada tahun 1292-1478).
  • Istilah Nusantara digunakan untuk menggambarkan wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit pada jaman tersebut yang mencangkup wilayah Indonesia yang berada diantara pulau-pulau (asal kata: Nusa=pulau-pulau, dan Antara).
  • Oleh karena itu, Majapahit lebih berkesan masa penjajahan dan kerajaan.
  • Sejak diproklamasirkanya kemerdekaan Indonesia, bangsa ini tidak menyukai unsur kerajaan dan penjajahan pada nama “Nusantara”.
  • Maka, bangsa ini lebih memilih istilah “Indonesia” dibandingkan dengan “Nusantara”.

Saat Indonesia diproklamirkan, secara geoggrafis bagian mana saja yang disebut Indonesia? 

Sebelumnya, terjadi Kongres Pemuda pada 28 Oktober 1928, dimana nama Indonesia dikemukakan pada isi Sumpah Pemuda, yaitu dikutip pada tulisan “Kami putra putri Indonesia…….”. Dan setelah itu, yang datand dari kongres pemuda itu ada Jong Java, Jong Ambon, Jong Calabes, Jong Bata, Jong Sumatranenbong, Jong Islamietenbong, Sekarukun, BPPPI dan Pemuda kaum Betawi. Dan 3 orang Tiounghua sebagaii pengamat yaitu: Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok, dan Tjio Djien Kwie. Dan Pada siding PPKI, nama-nama daerah secara geografis yang diproklamirkan oleh Soekarno itu sesuai dengan kongres pemuda pada saat itu dan disesuaikan juga dengan daerah-daerah yang sempat dikuasai Jepang. Contohnya Jong Sumatrabong yang berasal dari Sumatra, Jong Calabes yang berasal dari Provinsi Sulawesi, dan Jong Java berasal dari Jawa. (Secara geografis). Buktinya berada pada daerah-daerah yang dijajah oleh Jepang. Karena Jepang sudah secara tidak langsung mengakui bahwa daerah Jajahanya berasal dari “Indonesia”.

 

 

Bagaimana proses pembentukan Indonesia hingga menjadi suatu Negara?

SUMPAH PEMUDA

Kemerdekaan Indonesia di tahun 1945 merupakan suatu hasil dari rangkaian peristiwa yang terjadi bertahun-tahunsebelumnya. Segalanya berawal dari dimulainya pergerakan organisasi kepemudaan Indonesia sebelum tahun 1928, seperti Budi Oetomo, Trikoro darmo, Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia, dan organisasi lainnya. Dari organisasi tersebut muncul beberapa tokoh pemuda Indonesia berpendidikan, yang mulai mengidamkan kebebasan dari penjajahan yang terjadi saat itu dari mulai Belanda sampai jepang. Singkat cerita setelah mulai menyebarnya rasa nasionalisme antara daerah-daerah sepenjajahan saat it, pada tahun 1928 lebih tepatnya pada tanggal 28 Oktober diadakan Kongres Pemuda yang membuahkan hasil terbentuknya Sumpah Pemuda yang berbunyi:

Kami putera puteri Indonesia mengaku

berbangsa satu, Bangsa Indonesia

Berbahasa satu, bahasa Indonesia

Bertanah air satu, Tanah Air Indonesia

Dari sumpah pemuda tersebut, dimulailah kebangkitan rasa nasionalisme di Indonesia yang mengarah pada kemerdekaan Indonesia.

Kemerdekaan Indonesia pada awalnya direncanakan atas dasar pemberian Jepang sebagai “hadiah” karena bangsa Indonesia telah membantu Jepang dalam perang melawan Sekutu. Sebagai bukti upaya akan dimerdekakannya Indonesia, maka Jepang membentuk sebuah Badan Persiapan Kemerdekaan yang bernama BPUPKI pada tanggal 1 Maret 1945. Setelah semakin dekatnya tanggal kemerdekaan Indonesia dibentuklan PPKI pada tanggal 7 Agustus 1945.

Sebenarnya, pada saat itu terdapat perdebatan antara kaum tua dan kaum muda mengenai cara Indonesia menuju kemerdekaan. Para kaum muda berpikir kalau seharusnya Indonesia tidak harus bergantung pada kemerdekaan yang akan dijanjikan Jepang kepada mereka. Disisi lain, kaum tua khususnya Soekarno lebih cenderung mengikuti langkah-langkah yang dilakukan Jepang untuk memerdekakan Indonesia. Para kaum muda saat itu terus mengimbau para pemimpin kaum tua seperti Soekarno dan Hatta untuk segera memerdekakan Indonesia tanpa campur tangan jepang, akan tetapi imbauan tersebut tidak begitu dihiraukan kaum tua, karena mereka berpikir bahwa kaum muda terlalu tergesa-gesa mengambil keputusan.

PROKLAMASI

Pada tanggal 14 Agustus 1945, Jepang akhirnya menyerah terhadap Sekutu di Perang Dunia. Berita kekalahan Jepang lalu terdengar masyarakat Indonesia dan hal tersebut justru menjadi sebuah faktor semakin menggebunya semangat para kaum muda untuk segera berlepas diri dari tangan Jepang saat itu. Setelah menyerahnya Jepang terhadap Sekutu, di luar Indonesia sendiri sedang terjadi perundingan mengenai penyerahan kekuasaan Jepang terhadap Sekutu, termasuk saat Indonesia (yang berstatus sebagai jajahan Jepang) akan diserahkan kepada Belanda. Sedangkan di Indonesia sendiri saat itu terjadi kekosongan kekuasaan. Para kaum muda akhirnya terus mendesak Soekarno agar setuju untuk segera memerdekakan Indonesia tanpa menunggu lagi keputusan Jepang, akan tetapi masih tidak menyetujuinya.

Akhirnya, pada tanggal 16 Agustus 1945, kaum muda yang dipimpin oleh Soekarni melakukan penculikan terhadap dua tokoh berwibawa Indonesia Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok atas dasar tujuan tuntutan untuk menyegerakan kemerdekaan Indonesia.

Setelah Soekarno-Hatta berada di rengasdengklok tidak ada satu pun yang berani mendesak kedua tokoh berwibawa tersebut. Akan tetapi, saat di Rengasdengklok, Soekarno mengadakan diskusi bersama Sodancho Singgih, yang dari hasil diskusi Soekarno akhirnya menyetujui untuk memerdekakan Indonesia tanpa campur tangan Jepang. Sodancho pun kembali ke Jakarta pada tengah harinya untuk mengabarkan keputusannya dengan Soekarno. Achmad Soebarjo dan sekretarisnya pun menjemput Soekarno ke Rengasdengklok dengan jaminan nyawa kepada para kaum muda bahwa mereka akan segera memerdekakan Indonesia selambat-lambatnya pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 12 siang.

Dalam upaya tersebut, Soekarno dan kawan-kawannya berkumpul di rumah Laksamana Maeda (Jepang yang mendukung Indonesia) untuk mempersiapkan proklamasi kemerdekaan keesokan harinya. malam itu, dibuat teks proklamasi (Soekarno, achmad Soebarjo, dan Hatta) lalu diketik (Sayuti Melik), dan pembuatan bendera Indonesia (oleh Fatmawati).

Berikut bunyi teks Proklamasi:

PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain,

Di selenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, 17 Agustus 1945

Atas nama bangsa Indonesia

Soekarno – Hatta

Proklamasi kemerdekaan pun akhirnya dilaksanakan keesokan harinya pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta dan berita kemerdekaan diumumkan ke segala penjuru wilayah Indonesia melalui berbagai radio dan surat kabar yang beroperasi di Indonesia.

Sayangnya, perjuangan bangsa Indonesia tidak cukup berhenti sampai proklamasi. Setelahnya, Indonesia harus menghadapi invansi Belanda yang mengira Indonesia telah kembali pada kekuasaannya sesuai dnegan perjanjian setelah menyerahnya Jepang. Pada saat itu terjadi perseteruan besar antara Indonesia yang berjuang mempertahankan kemerdekaannya dan Belanda yang masih ingin menguasai Indonesia.

INVANSI BELANDA DAN USAHA PERDAMAIAN

Saat itu berita kemerdekaan Indonesia telah menyebar hingga luar negeri dan sudah terdapat beberapa negara yang mengakui kedaulatan Indonesia, seperti Palestina, Mesir, India, Australia, dan negara lainnya termasuk juga Inggris. Akan tetapi, Belanda masih enggan menyerahkan Indonesia begitu saja, hingga pihak dari Inggris mengupayakan rangkaian perundingan sebagai jalan penyelesaian perseteruan tersebut. Salah satunya adalah perundingan Linggarjati. Perundingan ini dilaksanakan di Istana Negara, Jakarta, Indonesia dan dihadiri Sutan Syahrir yang mewaliki Indinesia dan Pro. Schermerhorn yang mewakili belanda dengan seorang penengah yaitu diplomat Inggris, Lord Killearn. Dari perundingan tersebut, dibuatlah sebuah perjanjian Linggarjati ditandatangani pada tanggal 15 November 1946 yang berisi sebagai berikut:

  1. Belanda mengakui secara de facto wilayah Republik Indonesia atas Jawa, Madura, dan Sumatra.
  2. Akan dibentuk negara federal dengan nama Indonesia Serikat yang salah satu negara bagiannya adalah Republik Indonesia
  3. Dibentuk Uni Indonesia-Belanda dengan ratu Belanda sebagai kepala uni
  4. Pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Uni Indonesia-Belanda sebelum tanggal 1 Januari 1949

Setelah terbentuknya perjanjian tersebut, Belanda menginterpretasikan poin-poin yang tercantum pada hal-hal yang lebih manguntungkan pihak Belanda, seperti pembentukan negara federal, ratu Belanda sebagai kepala uni, dll, yang mengarah kepada kembali berkuasanya Belanda secara halus atas Indonesia. Disisi lain, Indonesia tidak menyetujui cara Belanda menginterpretasikan perjanjian tersebut, karena membuat perjanjian tersebut menyebabkan kerugian besar terhadap Indonesia sendiri. Pada akhirnya hal-hal tersebut berujung pada pelanggaran isi perjanjian Linggarjati dan dimulai kembali perseteruan antara Indonesia-Belanda.

Pada tanggal 20 Juli 1947 Belanda pun memulai Agresi Militer I terhadap Indonesia. Akibat dari kembali berlanjutnya konflik Indonesia-Belanda, PBB pada tanggal 1 Agustus 1947 mengeluarkan Resolusi No.27 yang berisi mengenai gencatan senjata antara Indonesia-Belanda, PB mengakui kemerdekaan Indonesia secara De Facto dengan nama “Indonesia” dan bukan Nederland Indische.

Kelanjutan dari tindakan tersebut adalah dibentuknya Komisi Tiga Negara (KTN) yang terdiri dari Australia (dipilih oleh Indonesia), Balgia (dipilih oleh Belanda), dan Amerika yang bersifat netral. Dari pembentukan KTN, berlanjut pada pembentukan perjanjian Renville yang ditandatangani pada tanggal 17 Januari 1948, yang berisi poin-poin sebagai berikut:

  1. Belanda hanya mengakui Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sumatera sebagai bagian wilayah Republik Indonesia.
  2. Disetujuinya sebuah garis demarkasi yang memisahkan wilayah Indonesia dan daerah pendudukan Belanda.
  3. TNI harus ditarik mundur dari daerah-daerah kantongnya di wilayah pendudukan di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Akan tetapi, sama halnya dengan perjanjian Linggarjati, perjanjian ini pun mengalami hambatan dalam pelaksanaannya, hingga pada tanggal 18 Desember 1948 Belanda menyatakan diri tidak terikat Renville. Keesokan harinya, Belanda pun membombardir Maguwo, Yogyakarta (yang pada saat itu merupakan ibukota Indonesia). Peristiwa tersebut merupakan awal dari Agresi Militer Belanda II terhadap Indonesia.

Konflik Indonesia-Belanda terus menerus berlanjut, dan akhirnya dibentuk kembali sebuah perjanjian, yaitu perjanjian Roem-Roijem pada bulan April 1949. Perjanjian ini terdiri dari dua pernyataan, yaitu pernyataan Indonesia yang dibacakan oleh perwakilan Indonesia, Mr. Mohammad Roem, yaitu:

  1. Pemerintah Republik Indonesia akan mengeluarkan perintah penghentian perang gerilya.
  2. Kedua belah pihak bekerja sama dalam hai mengembalikan perdamaian dan menjaga keamanan serta ketertiban.
  3. Belanda turut serta dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) yang bertujuan mempercepat penyerahan kedaulatan lengkap dan tidak bersyarat kepada negara Republik Indonesia Serikat.

dan pernyataan Belanda, yang dibacakan oleh Dr. J.H. van Royen, sebagai berikut:

  1. Pemerintah Belanda menyetujui bahwa pemerintah Republik Indonesia harus bebas dan leluasa melakukan kewajiban dalam satu daerah yang meliputi Karesidenan Yogyakarta.
  2. Pemerintah Belanda membebaskan secara tidak bersyarat para pemimpin Republik Indonesia dan tahanan politik yang ditawan sejak tanggal 19 Desember 1948.
  3. Pemerintah Belanda menyetujui bahwa Republik Indo-nesia akan menjadi bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS).
  4. Konferensi Meja Bundar (KMB) akan diadakan secepatnya di Den Haag sesudah pemerintah Republik Indonesia kembali ke Yogyakarta.

KONFERENSI MEJA BUNDAR

berdasarkan pernyataan Belanda pada saat itu, Konferensi Meja Bundar lalu diadakan pada tanggal 23 Agustus-2 November 1949 di Den Haag, belanda. Hasil dari konferensi tersebut adalah, sebagai berikut:

  1. Belanda mengakui Republik Indonesia Serikat (RIS) sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.
  2. Status Karesidenan Irian Barat diselesaikan dalam waktu setahun, sesudah pengakuan kedaulatan.
  3. Akan dibentuk Uni Indonesia-Belanda berdasarkan kerja sama sukarela dan sederajat.
  4. Republik Indonesia Serikat mengembalikan hak milik Belanda dan memberikan hak-hak konsesi dan izin baru untuk perusahaan-perusahaan Belanda.
  5. Republik indonesia Serikat harus membayar semua hutang Belanda yang ada sejak tahun 1942.

Konferensi ini merupakan tiitik awal meredanya konflik antara Indonesia-Belanda.

Namun, pada tahun 1945-1965 Indonesia juga terjadi pemberontakan besar-besaran yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia yang menginginkan untuk melepaskan diri dari Indonesia dikarenakan adanya ketidaksamaan ideologi. Pada masa itu pula Indonesia berada dibawah pemerintahan demokrasi Liberal yang berlangsung sejak 1950-1959. Sejak 1959, bentuk pemerintahan Indonesia mengalami perubahan dari Demokrasi Liberal menjadi demokrasi Terpimpin. Pada masa Demokrasi Terpimpin, dibentuklah operasi Pagar Betis dan Operasi Baratayuda pada tahun 1962. Tujuan dari operasi tersebut adalah untuk memberantas pemberontakan yang terjadi di beberapa daerah di indonesia. Masa Demokrasi Terpimpin pun diakhiri dengan dimulainya Demokrasi Pancasila.

Demikianlah proses terbentumya Indonesia sebagai sebuah negara dibawah sistem Demokrasi yang berdasarkan Pancasila.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: